Bekasi – Gelombang penolakan terhadap rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dilakukan PT Multistrada Arah Sarana terus menguat (7/5). Persoalan bermula setelah manajemen perusahaan mengirimkan surat PHK kepada sekitar 130 pekerja di bagian logistik(1/5). Kebijakan tersebut memicu aksi dari pekerja dan serikat pekerja di lingkungan perusahaan.
Sejak pengumuman PHK disampaikan, pekerja terdampak bersama pekerja lainnya yang masih aktif bekerja terus menunjukkan solidaritas perjuangan. Mereka mendirikan tenda perjuangan di depan gerbang perusahaan serta melakukan aksi blokade akses keluar masuk kendaraan operasional perusahaan.
Akibat aksi tersebut, aktivitas keluar masuk kendaraan perusahaan dilaporkan mengalami hambatan signifikan. Bahkan, hingga saat ini nyaris tidak ada kendaraan yang dapat melintas melalui akses utama perusahaan.
Salah satu pengurus serikat pekerja, Imam menyampaikan bahwa apabila perusahaan tidak segera mendengarkan aspirasi pekerja dan mencari solusi melalui dialog yang baik, maka dampak terhadap operasional produksi diperkirakan akan semakin besar.
“Kalau perusahaan tetap tidak membuka ruang penyelesaian dan mengabaikan aspirasi pekerja, kemungkinan besar produksi akan terganggu. Situasi ini tentu dapat merugikan semua pihak, termasuk perusahaan sendiri,” ujarnya.
Ratusan massa terlihat terus berkumpul di depan gerbang perusahaan. Dukungan solidaritas juga terus berdatangan dari berbagai serikat pekerja di sejumlah wilayah yang hadir langsung ke tenda perjuangan sebagai bentuk dukungan moral terhadap perjuangan pekerja PT Multistrada Arah Sarana.
Di tengah aksi blokade yang berlangsung, massa secara bergantian menyanyikan lagu-lagu perjuangan yang diwarnai dengan penggunaan alat musik sederhana sebagai penyemangat bagi para pekerja yang bertahan dalam perjuangan menolak PHK.
Sementara itu, pengurus PUK SP KEP SPSI PT Multistrada Arah Sarana terus melakukan berbagai langkah hukum dan upaya organisasi guna menyelesaikan persoalan tersebut sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Berdasarkan informasi yang diterima spsibekasi.org, Ketua Serikat Pekerja juga tengah melakukan komunikasi dengan Presiden KSPSI, Andi Gani Nena Wea, guna menyampaikan perkembangan situasi dan meminta arahan terkait langkah perjuangan yang akan ditempuh. Komunikasi tersebut dilakukan di Kantor Penasihat Kapolri yang berada di Mabes Polri, Jakarta.
Pihak serikat pekerja menilai, pendirian tenda perjuangan dan aksi blokade gerbang terjadi karena manajemen perusahaan dinilai tidak menjalankan mekanisme yang semestinya dalam proses PHK. Serikat pekerja menegaskan bahwa pemutusan hubungan kerja seharusnya terlebih dahulu dirundingkan dengan serikat pekerja agar tidak memicu konflik industrial berkepanjangan seperti yang terjadi saat ini.
Her-spsibekasi.org




