NasionalNEWS

Menaker Yassierli: Hubungan Industrial Tak Cukup Harmonis, Harus Naik ke Level Kolaboratif!

Prof. Yassierli, S.T., M.T., Ph.D. Dorong Transformasi Hubungan Industrial, PKB XVI Bridgestone Jadi Contoh Menuju Level Harmoni dan Kolaborasi

Karawang – Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Yassierli, menegaskan pentingnya transformasi hubungan industrial menuju tingkat yang lebih harmonis dan kolaboratif dalam sambutannya sebagai keynote speaker pada acara penandatanganan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) XVI PT Bridgestone Tire Indonesia di Karawang, Kamis (16/4/2026).

Dalam paparannya, Menaker menyampaikan bahwa pemerintah terus mendorong hadirnya Perjanjian Kerja Bersama di setiap perusahaan di Indonesia sebagai fondasi hubungan industrial yang sehat. Ia berharap keberadaan PKB mampu meminimalisir konflik serta menciptakan stabilitas ketenagakerjaan, sehingga tidak ada lagi pekerja yang dirugikan ataupun kehilangan pekerjaan.

Namun demikian, Yassierli mengakui bahwa realitas di lapangan masih menunjukkan berbagai tantangan. Ia menguraikan bahwa dinamika hubungan industrial saat ini masih berada pada beberapa tingkatan. Pada level pertama, persoalan mendasar seperti jam kerja, pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga perlindungan tenaga kerja masih kerap terjadi.

Memasuki level kedua, perusahaan pada umumnya telah mampu memenuhi hak-hak normatif pekerja sesuai regulasi. Meski demikian, masih sering terjadi ketidaksepahaman antara pekerja dan manajemen yang berujung pada proses negosiasi panjang, bahkan hingga bertahun-tahun.

“Ketika sudah masuk level ketiga, yaitu harmoni, hubungan industrial mulai kondusif. Dialog sosial berjalan baik, hak dan kewajiban dipahami bersama, dan kesepakatan dapat dicapai secara konstruktif. PKB XVI ini adalah bukti bahwa perusahaan dan serikat pekerja mampu mencapai tahap tersebut,” ujar Yassierli.

Lebih lanjut, Menaker menekankan bahwa tantangan berikutnya adalah naik ke level yang lebih tinggi, yakni hubungan industrial kolaboratif. Pada tahap ini, tidak hanya sekadar harmonis, tetapi juga mampu mendorong produktivitas, inovasi, dan keberlanjutan perusahaan.

Ia mengibaratkan hubungan antara manajemen dan serikat pekerja sebagai dua roda gigi yang harus bergerak selaras. Menurutnya, tanpa sinergi yang kuat, potensi besar yang dimiliki perusahaan dan pekerja tidak akan teroptimalkan.

Yassierli juga menyoroti pentingnya membangun motivasi intrinsik di kalangan pekerja. Ia menilai bahwa selama ini motivasi kerja masih banyak didorong oleh faktor eksternal, seperti imbalan atau penghargaan. Padahal, keberlanjutan inovasi dan kinerja perusahaan sangat bergantung pada dorongan internal individu untuk terus berkembang.

“Inovasi tidak bisa dipaksakan. Ia lahir dari budaya, dari ruang yang memberi kesempatan berpikir dan berkreasi. Karena itu, pendekatan kultural dan informal menjadi penting untuk membangun suasana kerja yang produktif,” jelasnya.

Dalam konteks global, Menaker juga menyinggung perubahan dunia kerja yang semakin dinamis, termasuk kemajuan teknologi seperti 3D printing hingga perubahan karakter generasi muda di dunia kerja. Ia menekankan perlunya pendekatan baru dalam manajemen organisasi agar tetap relevan, khususnya dalam menghadapi generasi milenial dan Gen Z.

Selain itu, Yassierli menggarisbawahi pentingnya membangun perusahaan yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan (profit), tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat dan negara. Ia juga mendorong penerapan prinsip inklusivitas di tempat kerja, termasuk peningkatan keterlibatan pekerja disabilitas sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Menutup sambutannya, Menaker menyampaikan optimismenya bahwa Indonesia memiliki modal sosial yang kuat, seperti gotong royong, kekeluargaan, dan musyawarah mufakat, yang dapat menjadi kekuatan utama dalam membangun hubungan industrial yang unggul.

“Jika kita mampu mengoptimalkan potensi tersebut, saya yakin perusahaan-perusahaan di Indonesia tidak hanya mampu mencapai best practice, tetapi bahkan melampauinya. PKB XVI Bridgestone ini diharapkan menjadi contoh nyata hubungan industrial yang transformatif dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Her-spsibekasi.org

Related Articles

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker