Bombana, spsibekasi.org – Dalam perjalanan panjang pengembangan organisasi, khususnya penguatan dan pembentukan anggota, suka dan duka adalah keniscayaan. Setiap proses selalu melahirkan cerita sebagian tercatat, sebagian lain hanya hidup dalam ingatan para pelakunya. Tulisan ini adalah sekelumit dari ribuan kisah perjuangan tersebut, yang terjadi di Pulau Kabaena , atau yang oleh warga setempat dikenal sebagai Tokotua 2017, Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara.
Pulau Kabaena merupakan pulau kecil yang kaya sumber daya alam, khususnya nikel. Selain itu, hampir seluruh wilayah pulau ditumbuhi pohon jambu monyet atau mede, yang menjadi ciri khas lanskap alamnya. Di pulau inilah berdiri PT Surya Saga Utama, salah satu perusahaan nikel terbesar di Kabaena, sekaligus menjadi lokasi pembentukan PUK SP KEP SPSI yang penuh tantangan.
Perjalanan dimulai dari Jakarta. Kami, empat orang pengurus PP FSP KEP SPSI Bung Ferri Nuzarli, Bung Afif Johan, Bung Chandra Mahlan, dan saya sendiri, Abdul Ghofur Muhammad, bertolak menuju Makassar. Dari Makassar, perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat menuju Bombana selama kurang lebih empat jam. Sesampainya di Bombana, kami kembali melanjutkan perjalanan menggunakan kapal motor dari Pelabuhan Kasupute menuju Pelabuhan Dongkala, Kabaena Timur, dengan waktu tempuh sekitar empat jam.
Setibanya di Pulau Kabaena, kami menginap di rumah salah satu warga setempat. Kondisi infrastruktur di pulau tersebut sangat terbatas. Listrik hanya menyala pada malam hari; sejak pukul 06.00 pagi hingga 18.00 sore waktu setempat, seluruh wilayah pulau mengalami pemadaman total. Kehidupan berjalan sederhana, namun penuh kehangatan. Di sela-sela agenda organisasi, kami menikmati ikan bakar khas Pulau Kabaena, sebuah kenangan kecil yang justru meninggalkan kesan mendalam.
Agenda utama kami adalah melakukan koordinasi dengan perwakilan pekerja dalam rangka pembentukan PUK SP KEP SPSI PT Surya Saga Utama. Proses tersebut tidak berjalan mulus. Berbagai kendala muncul, termasuk penolakan dari pihak perusahaan. Namun melalui komunikasi, keteguhan sikap, dan semangat perjuangan bersama para pekerja, akhirnya PUK SP KEP SPSI PT Surya Saga Utama berhasil terbentuk. Sebuah capaian penting yang lahir dari kerja keras dan keyakinan akan hak berserikat sebagai bagian dari perjuangan kaum pekerja.
Peristiwa yang paling membekas justru terjadi saat perjalanan pulang. Demi mengejar jadwal penerbangan, kami terpaksa menggunakan perahu tempel untuk menyeberang dari Pulau Kabaena ke Bombana. Kapal motor reguler yang biasa melayani rute tersebut hanya beroperasi sekali dalam periode tertentu. Perahu tempel yang kami gunakan sangat sederhana tanpa pelampung, tanpa ban karet pengaman, dan tanpa atap.
Perjalanan selama kurang lebih lima jam melintasi Laut Arafura menjadi ujian tersendiri. Ombak laut tidak bersahabat; air laut terus naik ke dalam perahu, memaksa kami sepanjang perjalanan menguras air agar perahu tetap mengapung. Di bawah terik matahari tanpa perlindungan, kulit kami melepuh akibat terpanggang sinar matahari. Namun dengan izin Allah SWT, kami akhirnya tiba di Bombana dengan selamat.
Perjalanan itu menyisakan renungan mendalam. Bayangkan jika perahu tempel tersebut tenggelam di Laut Arafura bisa jadi akan muncul tajuk berita sensasional: “Empat Pengurus PP FSP KEP SPSI Tenggelam di Laut Arafura Saat Membentuk PUK Baru.” Alhamdulillah, hal itu tidak terjadi. Kami masih diberi kesempatan untuk hidup, melanjutkan pengabdian, dan tetap berkontribusi bagi organisasi tercinta, SP KEP SPSI.
Demikian sedikit catatan dari negeri di atas awan, Tokotua/Kabaena. Semoga di masa mendatang, perjuangan organisasi dapat ditempuh dengan kondisi yang lebih aman, manusiawi, dan bermartabat tanpa mengurangi semangat juang yang telah menjadi napas gerakan serikat pekerja.
(AGM, 2 Februari 2026)




