NasionalNEWS

Saatnya Serikat Pekerja Bertransformasi: Bersatu, Mengorganisir, dan Memengaruhi Kebijakan

Perwakilan Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan GEKANAS Bahas Penguatan Organizing, Kolaborasi, serta Strategi Gerakan ke Depan

JAKARTA — Gerakan Serikat Pekerja/Serikat Buruh Indonesia perlu melakukan transformasi untuk memperkuat persatuan, memperluas basis pengorganisasian pekerja, serta meningkatkan kemampuan dalam memengaruhi kebijakan publik. Gagasan tersebut mengemuka dalam forum diskusi mengenai format gerakan Serikat Pekerja ke depan yang digelar di Kantor Pimpinan Pusat (PP) FSP KEP SPSI, Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Agenda tersebut dihadiri sekitar 20 orang perwakilan dari Pimpinan Daerah FSP KEP SPSI Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, serta GEKANAS. Pertemuan menjadi ruang bertukar pandangan dan gagasan mengenai tantangan gerakan pekerja sekaligus membahas arah strategis organisasi dalam menghadapi perubahan dunia ketenagakerjaan.

Sejumlah tokoh turut memberikan pandangan dalam forum, di antaranya R. Abdullah, Indra Munaswar, dan Chandra Mahlan. Pembahasan mencakup sejarah gerakan buruh, kondisi organisasi saat ini, fragmentasi antarserikat, perluasan organizing kepada pekerja yang belum berserikat, pendidikan kader, digitalisasi, advokasi kebijakan, hingga penguatan Koalisi Besar.

Salah satu persoalan utama yang menjadi perhatian adalah masih terfragmentasinya gerakan Serikat Pekerja/Serikat Buruh. Banyaknya organisasi belum sepenuhnya sejalan dengan kemampuan gerakan dalam memperluas jumlah pekerja yang terorganisir.

Karena itu, forum mendorong perubahan orientasi gerakan. Persaingan dalam mendapatkan pekerja yang sudah berserikat perlu secara bertahap diarahkan menjadi upaya bersama untuk mengorganisir pekerja yang belum berserikat.

Persatuan tidak harus dimaknai sebagai peleburan seluruh organisasi. Yang lebih penting adalah membangun kesepakatan bersama, saling menghormati, serta menciptakan mekanisme kerja sama yang mampu menyatukan kepentingan strategis gerakan pekerja.

Dalam diskusi, R. Abdullah memberikan perhatian terhadap masa depan Koalisi Besar. Koalisi dinilai memiliki potensi menjadi kekuatan bersama gerakan pekerja, namun perlu dikembangkan agar tidak berhenti sebagai kerja sama yang bersifat insidental atau hanya berorientasi pada isu tertentu.

Persoalan pekerja yang semakin kompleks membutuhkan visi bersama. Setiap organisasi tetap memiliki karakter dan kepentingannya masing-masing, tetapi diperlukan ruang bersama untuk memperjuangkan kepentingan pekerja secara lebih luas.

Salah satu gagasan yang muncul adalah penyusunan Code of Conduct antar-Serikat Pekerja/Serikat Buruh, sebagai pedoman hubungan antarorganisasi sekaligus upaya mencegah konflik dan perebutan anggota.

Indra Munaswar menekankan bahwa penguatan organizing harus menjadi salah satu fondasi utama gerakan pekerja. Serikat Pekerja tidak cukup hanya mempertahankan basis yang sudah ada, tetapi harus mampu menjangkau kelompok pekerja yang selama ini belum terorganisir.

Kelompok tersebut antara lain pekerja informal, pekerja platform, logistik, kurir, pekerja pasar, pertokoan, serta berbagai bentuk pekerjaan baru lainnya.

Forum juga membahas pentingnya mencetak kader organizer dengan melibatkan generasi muda, termasuk mahasiswa dan aktivis yang memiliki kapasitas organisasi. Mereka dapat memperoleh pendidikan dan ditempatkan di berbagai basis pekerja untuk membangun kesadaran sekaligus memperkuat organisasi.

Chandra Mahlan memberikan perspektif mengenai pentingnya sejarah gerakan buruh sebagai bahan pembelajaran untuk menentukan arah perjuangan ke depan.

Sejarah memberikan pelajaran mengenai pentingnya kesiapan organisasi, kekuatan basis, solidaritas, serta strategi perjuangan. Gerakan tidak cukup hanya mengandalkan semangat, tetapi juga harus memastikan organisasi dan basis massa berada dalam kondisi siap sebelum mengambil tindakan besar.

Perubahan pola kerja juga menjadi perhatian penting dalam forum. Gerakan Serikat Pekerja dinilai tidak dapat lagi hanya berorientasi pada pekerja formal di perusahaan.

Pekerja platform, seperti pengemudi ojek online dan kurir, menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian karena menghadapi berbagai persoalan terkait status kerja, jaminan sosial, keselamatan kerja, dan perlindungan hukum.

Karena itu, strategi organizing ke depan perlu lebih inklusif dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan bentuk pekerjaan baru.

Digitalisasi juga dinilai dapat menjadi instrumen penting dalam memperkuat gerakan. Media sosial dan teknologi dapat dimanfaatkan untuk komunikasi organisasi, pendidikan hak pekerja, mobilisasi, transparansi, penggalangan solidaritas, sekaligus memperluas jangkauan gerakan.

Di saat yang sama, pendidikan pekerja perlu diperkuat sejak seseorang memasuki dunia kerja. Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi objek mobilisasi, tetapi mampu tumbuh sebagai bagian aktif dari gerakan pekerja.

Forum juga menegaskan bahwa aksi massa tetap merupakan salah satu instrumen perjuangan. Namun, kekuatan massa perlu dilengkapi dengan strategi advokasi melalui lobi, audiensi, kajian akademik, policy brief, komunikasi dengan legislatif dan eksekutif, serta pengawalan implementasi regulasi.

Dengan pendekatan tersebut, gerakan pekerja diharapkan tidak hanya berada pada posisi merespons kebijakan pemerintah, tetapi juga mampu ikut menentukan arah kebijakan publik dan hukum ketenagakerjaan.

Sebagai tindak lanjut pemikiran strategis tersebut, forum mendorong penyusunan blueprint atau peta jalan gerakan Serikat Pekerja yang membagi agenda perjuangan dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.

Sejumlah agenda yang mengemuka meliputi penyusunan Code of Conduct antarserikat, penyamaan visi strategis, penguatan dan perluasan Koalisi Besar, perluasan organizing, kaderisasi organizer, pengorganisasian pekerja informal dan pekerja platform, pendidikan pekerja, digitalisasi organisasi, penguatan kajian hukum dan kebijakan, perluasan jaringan dengan akademisi serta masyarakat, penguatan komite perempuan dan pekerja muda, hingga pengembangan kemandirian ekonomi organisasi.

Pertemua tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesamaan pandangan mengenai masa depan gerakan Serikat Pekerja. Pesan utama yang mengemuka adalah perlunya perubahan arah gerakan dari fragmentasi menuju kolaborasi, dari perebutan anggota menuju perluasan basis, dari gerakan reaktif menuju gerakan strategis, serta dari aksi semata menuju kombinasi kekuatan massa, kajian, advokasi, dan pengaruh kebijakan.

Her-spsibekasi.org

Related Articles

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker