Bekasi, spsibekasi.org – Serikat Pekerja PT Mattel Indonesia menggelar pertemuan antara pengurus, Bakor dan para aktivis dalam rangka menjalankan amanah Musyawarah Unit Kerja (Musnik) ke-XI, yakni pembentukan Badan Koordinator (Bakor) periode 2026-2029. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Sabtu, 21 Februari 2026, bertempat di Hotel Java Palace Jababeka, Cikarang Utara, Bekasi mulai pukul 16.30 hingga 20.30 WIB.
Acara diawali dengan sambutan Ketua PUK SP KEP SPSI PT Mattel Indonesia, Lili Samsudin yang akrab disapa Mang Haji Zarot. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa Surat Keputusan (SK) Bakor periode 2023-2026 telah berakhir, sehingga perlu segera dibentuk Bakor baru untuk masa bakti 2026-2029. Ia juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas dedikasi para Bakor sebelumnya, yang ditandai dengan pemberian cinderamata dari organisasi sebagai bentuk penghargaan.
Mang Haji Zarot menegaskan bahwa Bakor merupakan kepanjangan tangan PUK di area kerja. Oleh karena itu, Bakor wajib taat terhadap instruksi organisasi serta berperan aktif dalam seluruh kegiatan serikat. Peran Bakor dinilai strategis dalam menjaga soliditas, komunikasi, serta konsolidasi organisasi di setiap lini kerja.
Memasuki waktu berbuka puasa, kegiatan dilanjutkan dengan buka puasa bersama dan ramah tamah antaranggota. Suasana kebersamaan semakin terasa dengan pelaksanaan sholat Maghrib berjamaah sebelum agenda inti pelantikan Bakor periode 2026-2029.
Sebanyak 53 orang resmi dilantik sebagai Bakor yang mewakili 13 area kerja di PT Mattel Indonesia, dengan delapan orang di antaranya merupakan perwakilan pekerja dari Gedung Barat. Komposisi ini diharapkan mampu memperkuat koordinasi dan efektivitas pergerakan organisasi di seluruh area perusahaan.
Sebagai penutup, Sekretaris PUK SP KEP SPSI PT Mattel Indonesia, Sri Retno Purwaningsih, memberikan arahan kepada Bakor yang baru dilantik agar menjalankan instruksi organisasi secara konsisten sesuai arahan Ketua PUK. Ia menekankan bahwa menjadi Bakor bukan soal kepintaran semata, melainkan kesiapan waktu, kemauan belajar, serta kerelaan berkorban tenaga dan pikiran untuk organisasi. “Untuk menjadi pintar bisa dimulai dengan belajar, tetapi untuk berorganisasi dibutuhkan komitmen dan waktu,” tegasnya.
Pertemuan ini menjadi momentum konsolidasi sekaligus penguatan struktur organisasi, guna memastikan amanah Musnik XI dapat dijalankan secara optimal dan berkesinambungan.
Kontributor: Retno
Editor: Her-spsibekasi.org




