NasionalNEWS

Presiden Prabowo Subianto Resmikan Museum Marsinah, Pekikan “Marsinah Tidak Mati!” Menggema di Nganjuk

Museum dan Rumah Singgah Buruh diharapkan menjadi pusat edukasi sejarah perjuangan pekerja sekaligus penggerak ekonomi masyarakat Desa Nglundo.

Nganjuk – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5), dengan meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah Buruh di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro. Peresmian tersebut menjadi simbol penghormatan negara terhadap perjuangan hak-hak buruh di Indonesia sekaligus penegasan bahwa sejarah perjuangan pekerja tidak boleh dilupakan.

Setibanya di lokasi, Presiden Prabowo langsung menuju kawasan rumah masa kecil almarhumah Marsinah. Museum yang berdiri berdampingan dengan rumah peninggalan Marsinah itu dibangun sebagai ruang edukasi sejarah perjuangan buruh sekaligus monumen penghormatan bagi sosok buruh perempuan yang dikenal gigih memperjuangkan hak-hak pekerja hingga akhir hayatnya pada 1993 silam.

Suasana peresmian berlangsung penuh semangat dan emosional. Pekikan “Hidup Buruh!” serta “Marsinah Tidak Mati!” menggema di tengah ribuan buruh dari berbagai elemen yang hadir membawa spanduk perjuangan dan tuntutan hak pekerja. Momentum tersebut menjadi catatan sejarah tersendiri karena perjuangan yang selama ini hidup di kalangan buruh kini mendapat perhatian langsung dari kepala negara.

Sebelum acara peresmian dimulai, seorang orator buruh membakar semangat massa dengan mengingatkan kembali tragedi kematian Marsinah yang hingga kini masih menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. Dalam orasinya, ia menegaskan bahwa perjuangan Marsinah tidak pernah berhenti meski sosoknya telah tiada.

“Mereka kira dengan membunuh Marsinah, suara buruh akan mati. Salah besar. Marsinah memang mati secara fisik, tetapi keberanian dan semangatnya hidup di dalam perjuangan buruh hari ini,” serunya yang disambut riuh tepuk tangan peserta aksi.

Dalam aksi solidaritas tersebut, massa buruh juga menyuarakan empat tuntutan utama, yakni upah layak bagi pekerja, penghapusan sistem outsourcing dan kerja kontrak berkepanjangan, penghentian kriminalisasi terhadap buruh yang berserikat, serta penuntasan berbagai kasus pelanggaran HAM terhadap buruh sejak era Marsinah hingga saat ini.

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menyampaikan keprihatinan mendalam atas sejarah kelam yang pernah dialami Marsinah. Ia menegaskan bahwa praktik penindasan terhadap pekerja dan kolusi yang melibatkan oknum aparat demi kepentingan kelompok tertentu tidak boleh kembali terjadi di Indonesia.

“Seluruh aparat harus terus memperbaiki diri dan koreksi. Jangan justru aparat yang menjadi backing penyelewengan,” tegas Presiden Prabowo di hadapan para buruh dan tamu undangan.

Kepala Negara juga menekankan pentingnya menegakkan hukum dan keadilan secara konsisten agar hak-hak rakyat kecil, termasuk kaum pekerja, benar-benar terlindungi.

“Budaya kolusi aparat yang dipakai oleh para kapitalis tidak boleh terjadi lagi. Hukum, keadilan, dan kebenaran harus ditegakkan,” lanjutnya.

Tepat pukul 10.00 WIB, Presiden Prabowo menandatangani prasasti peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah Buruh dengan didampingi Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi. Setelah peresmian, Presiden juga menyempatkan diri berziarah ke makam Marsinah di Desa Nglawak sebelum melanjutkan agenda kunjungan berikutnya.

Bupati Marhaen Djumadi menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat terhadap sejarah perjuangan Marsinah yang berasal dari Nganjuk. Ia berharap museum tersebut tidak hanya menjadi tempat mengenang sejarah, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat melalui pengembangan wisata edukasi dan sejarah.

“Setelah diresmikan oleh Bapak Presiden, kami berharap Desa Nglundo berkembang menjadi desa wisata. Museum ini diharapkan menjadi penggerak ekonomi masyarakat sekaligus sarana edukasi bagi generasi mendatang,” ujarnya.

Dengan diresmikannya Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah Buruh, Kabupaten Nganjuk kini memiliki destinasi wisata sejarah baru yang diharapkan mampu menjaga ingatan kolektif bangsa terhadap perjuangan hak-hak pekerja. Lebih dari sekadar bangunan memorial, museum tersebut menjadi simbol bahwa perjuangan buruh akan terus hidup dan mendapat tempat dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Her-spsibekasi.org

Related Articles

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker