Jakarta, spsibekasi.org – Di tengah kontribusi devisa sawit yang mencapai puluhan miliar dolar dan penyerapan sekitar 16 juta tenaga kerja, isu keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dinilai masih menjadi pekerjaan rumah besar. Hal ini menjadi sorotan utama dalam Dialog Pemangku Kepentingan yang diselenggarakan JAGA SAWITAN dalam refleksi tiga tahun kiprahnya, Jumat (13/3/2026).
Dalam sambutannya, Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menegaskan bahwa industri kelapa sawit masih menjadi sektor strategis yang memberikan kontribusi besar bagi perekonomian nasional, baik dari sisi devisa maupun penyerapan tenaga kerja. Ia menyampaikan bahwa pada tahun 2025 devisa dari sektor sawit mencapai sekitar 35,8 miliar dolar AS atau meningkat sekitar 34 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 27,8 miliar dolar AS.
Selain itu, produksi sawit nasional juga mengalami peningkatan sekitar 7,2 persen yang didorong oleh program peremajaan (replanting) perkebunan. Namun demikian, ia mengingatkan masih rendahnya produktivitas kebun plasma dan kebun swadaya petani yang perlu menjadi perhatian bersama agar potensi produksi nasional dapat lebih optimal.
Eddy juga menyoroti besarnya peran industri sawit dalam penyerapan tenaga kerja yang mencapai sekitar 16 juta orang, menjadikannya salah satu sektor dengan kontribusi ketenagakerjaan terbesar di Indonesia. Menurutnya, ketahanan industri sawit juga terbukti di tengah berbagai tantangan global, termasuk konflik geopolitik dan kenaikan biaya logistik ekspor.
Ia menekankan bahwa keberlanjutan industri sawit tidak dapat dipisahkan dari kualitas pengelolaan ketenagakerjaan, termasuk penguatan penerapan K3. Menurutnya, industri sawit berkelanjutan harus dibangun dengan perlindungan pekerja, peningkatan produktivitas, serta dialog sosial yang terbuka dan konsisten.
“Hubungan industrial yang harmonis akan memperkuat daya saing industri sawit nasional. Forum seperti JAGA SAWITAN bukan hanya ruang diskusi, tetapi juga wadah membangun solusi bersama antara pengusaha, pekerja, dan pemerintah,” ujarnya.
Eddy juga mengapresiasi peran JAGA SAWITAN selama tiga tahun terakhir yang dinilai telah aktif mendorong perbaikan kondisi ketenagakerjaan melalui pelatihan, advokasi, serta penguatan dialog sosial bersama berbagai mitra, termasuk lembaga internasional dan instansi pemerintah.
Sementara itu, Sekretaris Eksekutif JAPBUSI, Nurhasanah Marpaung, menyampaikan bahwa pembentukan JAGA SAWITAN tiga tahun lalu merupakan langkah kolaboratif untuk memastikan keberlanjutan industri sawit tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga dari aspek perlindungan pekerja.
Ia menegaskan bahwa refleksi tiga tahun perjalanan JAGA SAWITAN bukan sekadar perayaan, tetapi momentum untuk mengevaluasi capaian serta memperkuat fondasi kolaborasi multipihak dalam mendorong kerja layak di sektor sawit.
Menurutnya, salah satu indikator kematangan hubungan industrial adalah keberadaan Perjanjian Kerja Bersama (PKB). Hingga tahun 2025, tercatat sekitar 35 PKB di sektor sawit yang difasilitasi melalui jaringan tersebut, meskipun jumlah ini masih relatif kecil dibandingkan total perusahaan sawit di Indonesia.
Nurhasanah juga menyoroti pentingnya perlindungan terhadap pekerja rentan, termasuk pekerja perempuan, melalui penyusunan panduan kerja, edukasi hak-hak pekerja, serta penguatan klausul perlindungan dalam PKB.
“Menjaga sawit bukan hanya menjaga komoditasnya, tetapi juga menjaga manusia yang bekerja di dalamnya. Pekerja adalah tulang punggung industri, dan tanpa perlindungan yang memadai, keberlanjutan industri tidak akan tercapai,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa JAGA SAWITAN terus memperkuat kemitraan dengan berbagai pihak seperti ILO, TNP Foundation, dan Solidaridad dalam pengembangan kapasitas dialog sosial, mekanisme pengaduan, serta penguatan perlindungan pekerja di berbagai wilayah perkebunan sawit.
Dari perspektif internasional, Program Officer ILO, Abdul Hakim, menekankan bahwa dialog sosial merupakan instrumen penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi, menjaga martabat manusia, serta memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Ia menyampaikan bahwa negara dengan institusi dialog sosial yang kuat cenderung memiliki stabilitas ekonomi yang lebih baik serta mampu merespons tantangan sosial secara lebih adaptif. Karena itu, ia mendorong JAGA SAWITAN untuk terus mengembangkan program konkret yang tidak hanya fokus pada hubungan kerja, tetapi juga berkontribusi terhadap penguatan ekonomi dan perlindungan sosial.
“Dialog sosial adalah investasi peradaban. Ia memperkuat demokrasi ekonomi, menjaga martabat manusia, dan memastikan pertumbuhan yang berkeadilan,” ungkapnya.
Sementara itu, Menteri Ketenagakerjaan yang diwakili Staf Khusus, Indra, SH, MH, menegaskan bahwa penerapan K3 merupakan amanat konstitusi sebagaimana tertuang dalam Pasal 27 ayat (2) dan Pasal 28D ayat (2) UUD 1945 yang menjamin hak setiap warga negara atas pekerjaan serta perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja.
Ia juga mengingatkan bahwa Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 secara tegas menyatakan bahwa setiap pekerja berhak atas perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja, yang berarti menjadi kewajiban bagi perusahaan untuk memenuhinya.
Indra memaparkan bahwa angka kecelakaan kerja di Indonesia masih cukup tinggi, dengan sekitar 319 ribu kasus pada tahun 2025. Menurutnya, angka tersebut bahkan berpotensi lebih besar karena masih adanya pekerja yang belum terdaftar dalam program jaminan sosial ketenagakerjaan.
Karena itu, ia mendorong perusahaan untuk memperkuat implementasi Sistem Manajemen K3 (SMK3) serta membentuk Panitia Pembina K3 (P2K3) sebagai instrumen penting dalam pengawasan keselamatan kerja di tingkat perusahaan.
Ia juga memperkenalkan konsep tingkat kematangan hubungan industrial (industrial relations maturity) yang menempatkan dialog sosial sebagai indikator penting menuju hubungan industrial yang transformatif, di mana pekerja dan pengusaha memiliki visi bersama untuk tumbuh dan berkembang.
“Industri yang maju harus berjalan seiring dengan kesejahteraan pekerjanya. Tidak mungkin industri berkembang tanpa pekerja yang terlindungi,” tegasnya.
Her-spsibekasi.org




