BEKASI — Penguatan manajemen sumber daya manusia (SDM) dan kesehatan kerja menjadi bagian penting dalam membangun hubungan industrial yang harmonis, produktif, dan berkelanjutan. Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional “Implementasi Manajemen SDM dan Kesehatan Kerja sebagai Pilar Hubungan Industrial yang Harmonis dan Produktif”.
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 15 Agustus 2026, di Auditorium Lantai 7 Primaya Hospital Bekasi Barat, dihadiri sekitar 100 peserta dari unsur pengusaha, serikat pekerja, serta jajaran Primaya Hospital. Seminar berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga 13.00 WIB dan diisi dengan pemaparan sejumlah narasumber serta diskusi interaktif.
Dalam pembukaan, dr. Yoana Periskila Winarto, MKK., MHPM., FISQua, Direktur Primaya Hospital Bekasi Barat, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan narasumber yang telah hadir. Menurutnya, peningkatan pemahaman dan sinergi antara manajemen perusahaan, pekerja, serta tenaga kesehatan merupakan bagian penting dalam menciptakan hubungan industrial yang sehat.
“SDM adalah hal yang penting. Karena itu, melalui seminar ini kami berharap terbangun pemahaman dan sinergi yang semakin kuat antara manajemen, pekerja, dan tenaga kesehatan,” ujarnya.
Sebelum memasuki sesi materi, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai Primaya Hospital Bekasi Barat. dr. Rachel menyampaikan bahwa Primaya Hospital Bekasi Barat merupakan rumah sakit kelas A di Bekasi yang didukung berbagai layanan medis dan dokter berpengalaman.
Primaya Hospital sendiri merupakan jaringan rumah sakit swasta di Indonesia yang berada di bawah naungan PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY). Jaringan rumah sakit tersebut pertama kali berdiri di Tangerang pada 2006 dan sebelumnya dikenal dengan nama RS Awal Bros sebelum melakukan transformasi merek menjadi Primaya Hospital pada 2020.
Sesi pertama menghadirkan Leona A. Karnali, CFA, FRM, Chief Executive Officer Primaya Hospital Group, dengan materi “Talent as the Driving Force of Growth”.
Leona menegaskan bahwa pertumbuhan organisasi tidak hanya ditentukan oleh ekspansi bisnis dan pengembangan layanan, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan dalam membangun, mengembangkan, dan mempertahankan talenta.
“We hire for character, develop for competence,” menjadi salah satu prinsip yang ditekankan. Menurutnya, karakter, loyalitas, dan integritas merupakan fondasi utama, sementara kompetensi dapat terus dikembangkan melalui pembelajaran dan pengalaman.
Prinsip tersebut diterjemahkan melalui nilai PRIMA, yakni Professional, Rapi, Ibadah, Mendengarkan, dan Asertif. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari budaya kerja untuk membentuk SDM yang profesional sekaligus memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.
Leona juga menekankan pentingnya membangun kepemimpinan dari dalam organisasi. Pengembangan karier dan pemberian kesempatan kepada talenta internal dinilai strategis untuk memastikan keberlanjutan kepemimpinan.
Pendekatan tersebut diperkuat melalui konsep “Listen to Your Leaders”, yakni mendengarkan sebagai langkah awal untuk membangun kepercayaan, memberikan kewenangan, mengembangkan pemimpin masa depan, hingga menciptakan organisasi yang semakin kuat.
“Listen → Build Trust → Empower with Authority → Develop Future Leaders → Stronger Organization,” menjadi rangkaian prinsip yang menggambarkan proses membangun kepemimpinan melalui kepercayaan dan pemberdayaan.
Selain kompetensi, aspek emosional juga menjadi perhatian melalui konsep “Leadership with Love”, yang mencakup love yourself, love your job, dan love your team. Kepemimpinan, menurut Leona, bukan sekadar mengenai jabatan dan kewenangan, tetapi juga kemampuan membangun hubungan, memberikan kepercayaan, serta membantu orang lain berkembang.
Materi berikutnya disampaikan Dr. Yunus Triyonggo dengan mengangkat tema “Transformative Industrial Relations”.
Ia menekankan bahwa hubungan industrial perlu bergerak menuju pola yang lebih kolaboratif, terbuka, dan berorientasi pada tujuan bersama. Dialog antara perusahaan dan pekerja tidak seharusnya baru dilakukan ketika muncul perselisihan, tetapi perlu dibangun sejak awal untuk membahas tantangan bisnis, produktivitas, kesejahteraan pekerja, dan keberlanjutan perusahaan.
Salah satu aspek yang disoroti adalah psychological safety, yaitu terciptanya lingkungan kerja yang memungkinkan pekerja menyampaikan masalah, kritik, maupun gagasan tanpa rasa takut.
Dalam konteks tersebut, serikat pekerja juga didorong untuk mengembangkan peran dari sekadar rights claimant menjadi strategic partner yang mampu memberikan kontribusi terhadap produktivitas, inovasi, dan pertumbuhan perusahaan.
Salah satu pendekatan yang ditawarkan adalah Productivity Improvement Circle, yang melibatkan manajemen, supervisor, pekerja, perwakilan serikat pekerja, dan pemilik proses dalam agenda peningkatan produktivitas.
“Kemitraan bukan berarti menghilangkan perbedaan kepentingan, tetapi membangun ruang dialog agar perbedaan tersebut dapat menghasilkan solusi dan nilai bersama,” menjadi pesan penting dalam sesi tersebut.
Sementara itu, materi berikutnya disampaikan R. Abdullah, Ketua Umum PP FSP KEP SPSI sekaligus Wakil Presiden KSPSI AGN, yang membawakan tema “Peluang dan Tantangan Serikat Pekerja di Era Perubahan Regulasi dan Transformasi Dunia Kerja.”
R. Abdullah menjelaskan perjalanan industrialisasi Indonesia yang terus mengalami perubahan, mulai dari perkembangan kebijakan investasi dan industrialisasi, era Reformasi, integrasi ekonomi kawasan melalui AFTA dan MEA, hingga memasuki era globalisasi dan Revolusi Industri 5.0.
Perubahan tersebut membawa konsekuensi terhadap dunia ketenagakerjaan. Persaingan tidak lagi hanya terjadi antarp perusahaan di dalam negeri, tetapi juga antara perusahaan nasional dengan perusahaan global serta antar tenaga kerja dari berbagai negara.
Sedikitnya terdapat lima aspek persaingan yang semakin kuat, yaitu kualitas SDM, produktivitas, sistem hubungan kerja, harga, dan kualitas produk. Kondisi ini menuntut pekerja dan serikat pekerja untuk terus meningkatkan kompetensi, produktivitas, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi dan pola kerja.
Di sisi lain, transformasi dunia kerja juga melahirkan semakin beragamnya bentuk hubungan kerja, seperti pekerja kontrak, outsourcing, pekerja harian lepas, magang, dan sistem borongan. Perubahan tersebut turut memengaruhi struktur pekerjaan dan pola hubungan industrial.
R. Abdullah juga menyoroti perkembangan regulasi ketenagakerjaan sejak era Reformasi, termasuk penguatan kebebasan berserikat melalui UU Nomor 21 Tahun 2000, penyelesaian perselisihan hubungan industrial melalui UU Nomor 2 Tahun 2004, serta pengaturan ketenagakerjaan melalui UU Nomor 13 Tahun 2003 dan berbagai perubahan regulasi setelahnya.
Dalam menghadapi perubahan tersebut, pemerintah, pengusaha, dan pekerja dinilai memiliki peran masing-masing dalam membangun hubungan industrial yang mampu merespons perkembangan ekonomi dan teknologi tanpa mengabaikan perlindungan serta kesejahteraan pekerja.
Konsep Hubungan Industrial Pancasila (HIP) juga menjadi salah satu gagasan penting. Hubungan antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah diharapkan tidak hanya berorientasi pada kepentingan ekonomi, tetapi juga berlandaskan nilai Pancasila dan UUD 1945, melalui semangat kemitraan, kekeluargaan, musyawarah mufakat, dan gotong royong.
Sesi terakhir menghadirkan dr. Meity Asyari Rahmadhani, Sp.N, Dokter Spesialis Neurologi Primaya Hospital Bekasi Barat, yang membahas work-related low back pain atau nyeri punggung bawah akibat faktor pekerjaan.
Menurutnya, nyeri punggung bawah merupakan salah satu keluhan kesehatan yang sering dialami pekerja, khususnya mereka yang melakukan aktivitas fisik maupun bekerja dalam posisi yang kurang ergonomis.
Area lumbar memiliki beban mekanis yang tinggi karena menopang sebagian besar berat tubuh sekaligus menjadi pusat berbagai gerakan, seperti membungkuk, menegakkan badan, dan melakukan rotasi.
Risiko dapat meningkat ketika pekerja melakukan gerakan atau postur yang tidak tepat secara berulang, seperti memutar tubuh ketika membawa beban tanpa menggerakkan kaki, terlalu sering membungkuk, melakukan pekerjaan monoton, serta kurang memperoleh waktu istirahat.
Duduk atau berdiri terlalu lama, termasuk lebih dari enam jam dalam satu shift, juga dapat meningkatkan beban pada punggung. Sementara itu, paparan whole body vibration, seperti yang dialami operator kendaraan atau alat berat, juga dapat menjadi faktor risiko.
Dampaknya bukan hanya terhadap kesehatan pekerja, tetapi juga dapat berpengaruh pada produktivitas, efisiensi operasional, ketidakhadiran, dan kesejahteraan pekerja.
Karena itu, penerapan prinsip ergonomi, pengaturan posisi kerja, pengurangan gerakan yang membebani punggung, variasi aktivitas, serta waktu istirahat yang memadai perlu menjadi bagian dari budaya keselamatan dan kesehatan kerja.
Selain pemaparan materi, seminar juga berlangsung secara interaktif melalui sesi diskusi. Peserta dari unsur pengusaha, serikat pekerja, dan Primaya Hospital aktif menyampaikan pertanyaan, pandangan, serta berbagai persoalan yang berkaitan dengan materi yang disampaikan para narasumber.
Diskusi tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan SDM, kesehatan kerja, produktivitas, dan hubungan industrial merupakan isu yang saling berkaitan dan membutuhkan keterlibatan semua pihak.
Seminar yang berlangsung hingga pukul 13.00 WIB tersebut kemudian ditutup dengan pemberian hadiah melalui undian, termasuk apresiasi bagi peserta yang hadir pertama serta penghargaan berdasarkan ulasan Google terbaik.
Her–spsibekasi.org




