SELAMAT JALAN BUNG JACOB NUWA WEA



Jacob Nuwa Wea (Istimewa)
Ketika dilantik menjadi menteri tenaga kerja dan transmigrasi oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 10 Agustus 2001, banyak yang tidak yakin, ia mampu mengemban jabatan itu. Pada masa itu, aksi demo buruh berlangsung setiap hari. Lobi kantor Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemnakertrans) di Jalan Gatot Subroto bahkan diduduki buruh. Menakertrans ketika itu tak berkutik.
Sehari setelah ia berkantor, lantai lobi bersih. Tidak ada lagi manusia yang tidur dengan pakaian dan perabot yang berserakan di mana-mana. Para pendemo meninggalkan kantor yang sudah mereka duduki berbulan-bulan.
Pada hari pertama masuk kantor, Jacob Nuwa Wea memanggil ketua aksi demo ke ruangannya. Setelah berdialog, sang ketua menuruni tangga dengan senyum mengembang. Ia mengajak rekan-rekannya pulang.
“Kami percaya pada menteri baru,” kata ketua aksi demo kepada pers.
Itulah gaya Jacob menyelesaikan masalah. Sebagai mantan buruh kasar, pria kelahiran Loku Tandho, Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) 14 April 1944 itu tahu betul aspirasi buruh. Para buruh hanya ingin didengar, dipahami, dan mendapat respons positif dari pengusaha dan penguasa. Jika tuntutan mereka tidak bisa dikabulkan karena keterbatasan, mereka akan terima, tapi bukan karena ketidakpedulian.
Jacob tidak mengenyami pendidikan hebat seperti umumnya para menteri. Ia mengenyam pendidikan formal hingga sekolah pertanian menengah atas (SPMA) di Mataram, Nusa Tenggara Barat, dan Akademi Ilmu Perburuhan di Jakarta tahun 1978.
Tetapi, kekurangan pendidikan formal diimbangi oleh ketekunannya dalam belajar otodidak. Ia belajar hukum, politik, ekonomi, dan semua hal, termasuk bahasa Inggris. Saya masih ingat, ketika bertetangga dengannya, setiap sore ia mengajar bahasa Inggris kepada putrinya yang waktu itu sedang di SMP. Ia mengajari conversation dan grammar. Luar biasa. Putrinya kini fasih berbahasa Inggris dan bermukim di Amerika Serikat.
Saya ingat, waktu itu pada 1984-1986. Saya tinggal di rumah paman di Pasar Rebo, Jakarta Timur, bertetangga dengan Jacob. Hampir setiap hari para buruh datang berkonsultasi soal hak-hak mereka. Ternyata, sejak tahun 1970-an awal, ia sudah menjadi konsultan dan pengacara para buruh.
Selain otodidak, Jacob punya beberapa keunggulan. Semua undang-undang (UU) dan peraturan perburuhan ada di batok kepalanya. Ia menjelaskan pasal-pasal tanpa perlu membaca UU dan peraturan. Jacob juga dikenal sebagai figur yang berani, setia kawan, dan pembela orang kecil tanpa pamrih. Rumahnya seperti asrama, penuh orang, mulai dari yang sekadar menumpang makan, anak sekolah, hingga para pekerja yang ingin berkonsultasi.
Ia tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang memimpin aksi demo buruh. Pada awal 1970-an, ia memimpin aksi mogok di Indomilk, Jalan Raya Bogor, Jakarta Timur. Tawaran gaji dan fasilitas dari perusahaan ia tampik. Ia akhirnya memilih meninggalkan perusahaan karena manajemen menolak tuntutan buruh.
Selama menjadi buruh dan aktif di organisasi pekerja, Jacob aktif di PNI yang kemudian berfusi dengan Partai Katolik dan Parkindo menjadi PDI. Ketika Megawati Soekarnoputri masuk PDI, Jacob memilih mendukung putri Bung Karno. Jacob selalu berada di garda terdepan setiap aksi demo PDI–yang kemudian berubah menjadi PDIP–yang direstui Mega.
Selepas Indomilk, Jacob aktif di Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). Ketekunan dalam membela para pekerja membawa Jacob ke posisi ketua umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI). Di bidang politik, ia menjadi ketua DPC PDIP Jakarta Timur (1982-1987), anggota DPR dari PDIP (1999-2004), wakil ketua DPD PDIP DKI Jakarta, menteri ternaga kerja dan transmigrasi (2001-2004), dan ketua DPP PDIP (2005-2010).
Sebagai pengagum Bung Karno, Jacob bukan hanya paham semua ajaran pendiri PNI dan proklamator kemerdekaan RI itu. Ia pernah memimpin Kesatuan Marhaenis Indonesia. Meski bukan orang Jawa seperti Bung Karno, gaya pidato Jocob berapi-api penuh semangat seperti Soekarno.
Pada 2007, ketika bertugas di Sulawesi Utara, Jacob terkena stroke. Sempat dirawat di Singapura dan bolak-balik rumah sakit, pahlawan para buruh ini mengembuskan napasnya yang terakhir di Rumah Sakit Gleaneagles, Penang, Malaysia, Sabtu, 8 April 2016, pukul 08.30 WIB.
Tak ada gading yang tak retak. Jacob adalah figur yang mudah naik darah, terutama bila kepentingan pekerja dilecehkan. Tetapi, ia adalah manusia yang hangat dan mudah memaafkan. Setiap kali bertemu dengan Jacob, kita tak ingin berpisah. Sekarang, ia sudah pergi untuk selamanya, menemukan kebahagiaan sejati di mana tak ada penindasan kepada kaum lemah.
Selamat jalan, Bung Jacob! Kiranya nasib para pekerja di Tanah Air kian baik. Merdeka!
Primus Dorimulu/AB

 






Comments


  1. No Comment

Leave a reply