Home / K3 / KENALAN DENGAN PENYAKIT AKIBAT KERJA (PAK)

KENALAN DENGAN PENYAKIT AKIBAT KERJA (PAK)

MENGENAL LEBIH JAUH MENGENAI PENYAKIT AKIBAT KERJA (PAK)
Edisi Bulan K3

Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dan/atau lingkungan kerja (Perpres No.7 Tahun 2019). Pengertian PAK dalam Perpres No.7 Tahun 2019 tersebut sama seperti pengertian sebelumnya yang diatur dalam Permenaker No. Per. 01/Men/1981.

Sementara itu menurut ILO PAK didefinisikan sebagai Penyakit yang diderita sebagai akibat pemajanan faktor-faktor yang timbul dari kegiatan pekerjaan. Data yang dilansir oleh ILO menunjukan bahwa jumlah kematian pekerja di dunia karena PAK jauh lebih besar dari pada kematian karena Kecelakaan kerja. 2,4 juta orang meninggal setiap tahunnya karena PAK dari angka kematian keseluruhan sebanyak 2,7 juta karena kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.

Akan tetapi di Indonesia, angkanya sangat jauh terbalik, jumlah PAK yang masuk ke BPJS Ketenagakerjaan sejak Indonesia merdeka sampai dengan tahun 2018 angkanya di bawah 30 kasus dari jumlah pekerja sebanyak 127 juta orang.
Beberapa permasalahan yang terkait PAK di Indonesia diantaranya:
a.Minimnya pemahaman tenaga kerja dan Pengurus Serikat Pekerja tentang PAK dan hak-hak yang seharusnya didapatkan oleh pekerja atas Jaminan Penyakit Akibat Kerja yang saat ini dimasukan dalam kategori Kecelakaan Kerja sehingga :
Ada kecenderungan hak-hak tenaga kerja tidak dibayar apabila terkena PAK
Pemberian hak jaminan kecelakaan kerja dan PAK yang lebih kecil dari ketentuan perundangan yang berlaku (sub standar)
Tenaga kerja dan serikat pekerja masih sangat jarang mengajukan tuntutan atas kasus tidak dipenuhinya hak atas perlindungan K3 termasuk dalam hal PAK dan kompensasi BPJS Katenagakerjaan.

b.Ada kecenderungan PAK yang terdiagnosa tidak dilaporkan, dokter di perusahaan sering berstatus sebagai tenaga paruh waktu sehingga kurang leluasa dalam melaksanakan program kesehatan kerja secara komprehensif;
c.PAK dalam peraturan perundangan termasuk kategori Kecelakaan Kerja sehingga perusahaan cenderung tidak melaporkan kasus PAK, terkait penghargaan Nihil Kecelakaan (Zero Accident).

d.Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja belum banyak dilakukan, sebagian besar belum dilakukan secara benar sehingga penyakit yang dilaporkan sebagai PAK masih sangat jarang. Hal ini juga disebabkan karena belum banyaknya dokter yang memahami mengenai PAK. Meskipun di bawah kementrian kesehatan sudah banyak upaya yang dilakukan untuk dapat melatih para dokter untuk dapat mendiagnosa PAK, termasuk dokter-dokter di Puskesmas.

Berdasarkan Perpres No.7 Tahun 2019 Penyakit Akibat Kerja meliputi jenis penyakit:
a.yang disebabkan pajanan faktor yang timbul dari aktivitas pekerjaan;
b.berdasarkan sistem target organ;
c.kanker akibat kerja; dan
d.spesifik lainnya.
Jenis Penyakit Akibat Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Presiden ini.

1.Penyakit Yang Disebabkan Pajanan Faktor Yang Timbul Dari Aktivitas Pekerjaan Penyakit Akibat Kerja pada klasifikasi jenis I ini sebagai berikut:
a.Penyakit yang disebabkan oleh faktor kimia, meliputi:
1)penyakit yang disebabkan oleh berillium dan persenyawaannya;
2)penyakit yang disebabkan oleh cadmium atau persenyawaannya;
3)penyakit yang disebabkan oleh fosfor atau persenyawa€rnnya;
4)penyakit yang disebabkan oleh krom atau persenyawaannya;
5)penyakit yang disebabkan oleh mangan atau persenyawaannya;
6)penyakit yang disebabkan oleh arsen atau persenyawaannya;
7)penyakit yang disebabkan oleh raksa atau persenyawaannya;
8)penyakit yang disebabkan oleh timbal atau persenyawaannya;
9)penyakit yang disebabkan oleh fluor atau persenyawaannya;
10) penyakit yang disebabkan oleh karbon disulfida;
11) penyakit yang disebabkan oleh derivat halogen dari persenyawaan hidrokarbon alifatik atau aromatic;
12) penyakit yang disebabkan oleh benzene atau homolognya;
13) penyakit yang disebabkan oleh derivat nitro dan amina dari benzene atau homolognya;
14) penyakit yang disebabkan oleh nitrogliserin atau ester asam nitrat lainnya;
15) penyakit yang disebabkan oleh alcohol, glikol, atau keton;
16) penyakit yang disebabkan oleh gas penyebab asfiksia seperti karbon monoksida, hydrogen sulfida, hidrogen sianida atau derivatnya;
17) penyakit yang disebabkan oleh acrylonitrile;
18) penyakit yang disebabkan oleh nitrogen oksida;
19) penyakit yang disebabkan oleh vanadium atau persenyawaannya;
20) penyakit yang disebabkan oleh antimon atau persenyawaannya;
21) penyakit yang disebabkan oleh hexane;
22) penyakit yang disebabkan oleh asam mineral;
23) penyakit yang disebabkan oleh bahan obat;
24) penyakit yang disebabkan oleh nikel atau persenyawaannya;
25) penyakit yang disebabkan oleh thalium atau persenyawaannya;
26) penyakit yang disebabkan oleh osmium atau persenyawaannya;
27) penyakit yang disebabkan oleh selenium atau persenyawaannya;
28) penyakit yang disebabkan oleh tembaga atau persenyawaannya;
29) penyakit yang disebabkan oleh platinum atau persenyawaannya;
30) penyakit yang disebabkan oleh timah atau persenyawaannya;
31) penyakit yang disebabkan oleh zinc atau persenyawaannya;
32) penyakit yang disebabkan oleh phosgene;
33) penyakit yang disebabkan oleh zat iritan kornea seperti benzoquinone
34) penyakit yang disebabkan oleh isosianat;
35) penyakit yang disebabkan oleh pestisida;
36) penyakit yang disebabkan oleh sulfur oksida;
37) penyakit yang disebabkan oleh pelarut organik;
38) penyakit yang disebabkan oleh lateks atau produk yang mengandung lateks; dan
39) penyakit yang disebabkan oleh bahan kimia lain di tempat kerja yang tidak disebutkan di atas, di mana ada hubungan langsung antara paparan bahan kimia dan penyakit yang dialami oleh pekerja yang dibuktikan secara ilmiah dengan menggunakan metode yang tepat;

b.Penyakit yang disebabkan oleh faktor fisika, meliputi:
1) kerusakan pendengaran yang disebabkan oleh kebisingan;
2) penyakit yang disebabkan oleh getaran atau kelainan pada otot, tendon, tulang, sendi, pembuluh darah tepi atau saraf tepi;
3) penyakit yang disebabkan oleh udara bertekanan atau udara yang didekompresi;
4) penyakit yang disebabkan oleh radiasi ion;
5) penyakit yang disebabkan oleh radiasi optik, meliputi ultraviolet, radiasi elektromagnetik (visible light), infra merah, termasuk laser;
6) penyakit yang disebabkan oleh pajanan temperatur ekstrim; dan
7) penyakit yang disebabkan oleh faktor fisika lain yang tidak disebutkan di atas, di mana ada hubungan langsung antara paparan faktor fisika yang muncul akibat aktivitas pekerjaan dengan penyakit yang dialami oleh pekerja yang dibuktikan secara ilmiah dengan menggunakan metode yang tepat;

c.penyakit yang disebabkan oleh faktor biologi dan penyakit infeksi atau parasit, meliputi:
1) brucellosis;
2) virus hepatitis;
3) virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia (human immunodeficiency virus);
4) tetanus;
5) tuberkulosis;
6) sindrom toksik atau inflamasi yang berkaitan dengan kontaminasi bakteri atau jamur;
7) anthrax,
8) leptospira; dan
9) penyakit yang disebabkan oleh faktor biologi lain di tempat kerja yang tidak disebutkan di atas, di mana ada hubungan langsung antara paparan faktor biologi yang muncul akibat aktivitas pekerjaan dengan penyakit yang dialami oleh pekerja yang dibuktikan secara ilmiah dengan menggunakan metode yang tepat.

2. Penyakit Berdasarkan Sistem Target Organ, Penyakit Akibat Kerja pada klasifikasi jenis II ini sebagai berikut:
a. penyakit saluran pernafasan, meliputi:
1) pneumokoniosis yang disebabkan oleh debu mineral pembentuk jaringan parut, meliputi silikosis, antrakosilikosis, dan asbestos;
2) siliko tuberkulosis;
3) pneumokoniosis yang disebabkan oleh debu mineral non-fibrogenic;
4) siderosis;
5) penyakit bronkhopulmoner yang disebabkan oleh debu logam keras;
6) penyakit bronkhopulmoner yang disebabkan oleh debu kapas, meliputi bissinosis, vlas, henep, sisal, dan ampas tebu atau bagassosis;
7) asma yang disebabkan oleh penyebab sensitisasi atau zat iritan yang dikenal yang ada dalam proses pekerjaan;
8) alveolitis alergika yang disebabkan oleh faktor dari luar sebagai akibat penghirupan debu organik atau aerosol yang terkontaminasi dengan mikroba, yang timbul dari aktivitas pekerjaan;
9) penyakit paru obstruktif kronik yang disebabkan akibat menghirup debu batu bara, debu dari tambang batu, debu kayu, debu dari gandum dan pekerjaan perkebunan, debu dari kandang hewan, debu tekstil, dan debu kertas yang muncul akibat aktivitas pekerjaan;
10) penyakit paru yang disebabkan oleh aluminium;
11) kelainan saluran pernafasan atas yang disebabkan oleh sensitisasi atau iritasi zat yang ada dalam proses pekerjaan;
12) penyakit saluran pernafasan lain yang tidak disebutkan di atas, di mana ada hubungan langsung antara paparan faktor risiko yang muncul akibat aktivitas pekerjaan dengan penyakit yang dialami oleh pekerja yang dibuktikan secara ilmiah dengan menggunakan metode yang tepat;

b. penyakit kulit, meliputi:
1) dermatosis kontak alergika dan urtikaria yang disebabkan oleh faktor penyebab alergi lain yang timbul dari aktivitas pekerjaan yang tidak termasuk dalam penyebab lain;
2) dermatosis kontak iritan yang disebabkan oleh zat iritan yang timbul dari aktivitas pekerjaan, tidak termasuk dalam penyebab lain; dan
3) vitiligo yang disebabkan oleh zat penyebab yang diketahui timbul dari aktivitas pekerjaan, tidak temasuk dalam penyebab lain;

c. gangguan otot dan kerangka, meliputi:
1) radial styloid tenosynovitis karena gerak repetitif, penggunaan tenaga yang kuat dan posisi ekstrim pada pergelangan tangan;
2) tenosynovitis kronis pada tangan dan pergelangan tangan karena gerak repetitif, penggunaan tenaga yang kuat dan posisi ekstrim pada pergelangan tangan;
3) olecranon bursitis karena tekanan yang berkepanjangan pada daerah siku;
4) prepatellar bursitis karena posisi berlutut yang berkepanjangan;
5) epicondylitis karena pekerjaan repetitif yang mengerahkan tenaga;
6) meniscus lesions karena periode kerja yang panjang dalam posisi berlutut atau jongkok;
7) carpal tunnel syndrome karena periode berkepanjangan dengan gerak repetitif yang mengerahkan tenaga, pekerjaan yang melibatkan getaran, posisi ekstrim pada pergelangan tangan, atau 3 (tiga) kombinasi diatas; dan
8) penyakit otot dan kerangka lain yang tidak disebutkan diatas, dimana ada hubungan langsung antara paparan faktor yang muncul akibat aktivitas pekerjaan dan penyakit otot dan kerangka yang dialami oleh pekerja yang dibuktikan secara ilmiah dengan menggunakan metode yang tepat;

d. gangguan mental dan perilaku, meliputi:
1) gangguan stres pasca trauma; dan
2) gangguan mental dan perilaku lain yang tidak disebutkan diatas, dimana ada hubungan langsung antara paparan terhadap faktor risiko yang muncul akibat aktivitas pekerjaan dengan gangguan mental dan perilaku yang dialami oleh pekerja yang dibuktikan secara ilmiah dengan menggunakan metode yang tepat.

3. Penyakit Kanker Akibat Kerja, Penyakit Akibat Kerja pada klasifikasi jenis III ini, yaitu kanker yang disebabkan oleh zat berikut:
a. asbestos;
b. benzidine dan garamnya;
c. bis-chloromethyl ether
d. persenyawaan chromium VI;
e. coal tars, coal tar pitches or soots;
f. beta-naphthylamine;
g. vinyl chloride;
h. benzene;
4. Penyakit Spesifik Lainnya
Penyakit spesihk lainnya merupakan penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau proses kerja, dimana penyakit tersebut ada hubungan langsung antara paparan dengan penyakit yang dialami oleh pekerja yang dibuktikan secara ilmiah dengan menggunakan metode yang tepat. Contoh penyakit spesifik lainnya, yaitu nystagmus pada penambang.

Pekerja yang didiagnosis menderita Penyakit Akibat Kerja berdasarkan surat keterangan dokter berhak atas manfaat JKK meskipun hubungan kerja telah berakhir. Hak atas manfaat JKK diberikan apabila Penyakit Akibat Kerja timbul dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun terhitung sejak hubungan kerja berakhir.

Diagnosis menderita Penyakit Akibat Kerja berdasarkan surat keterangan dokter merupakan diagnosis jenis Penyakit Akibat Kerja yang dilakukan oleh:
a. dokter; atau
b. dokter spesialis,
yang berkompeten di bidang kesehatan kerja.

Dalam hal terdapat jenis Penyakit Akibat Kerja yang belum tercantum dalam Lampiran penyakit tersebut harus memiliki hubungan langsung dengan pajanan yang dialami pekerja, Penyakit tersebut harus dibuktikan secara ilmiah dengan menggunakan metode yang tepat dan dilakukan oleh dokter atau dokter spesialis yang berkompeten di bidang kesehatan kerja.

Tujuh (7) Langkah Diagnosa PAK
1. Diagnosis klinisnya ANAMNESIS DAN PEMERIKSAAN PENUNJANG
2. Tentukan pajanan yang dialami oleh tenaga kerja
3. Tentukan apakah pajanan tersebut memang dapat menyebabkan penyakit tersebut.
4. Tentukan jumlah pajanan yang dialami oleh tenaga kerja
5. Tentukan apakah ada faktor-faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi.
6. Cari adanya kemungkinan lain yang dapat merupakan penyebab penyakit.
7. Buat keputusan apakah penyakit tersebut disebabkan oleh pekerjaannya.
Prinsip-Prinsip Pencegahan PAK
1. Pencegahan Primer/Awal, dilakukan sedini mungkin sebelum kasus terjadi
2. Pencegahan Sekunder, dilakukan apabila sudah terdapat tanda-tanda atau gejala adanya PAK
3. Pencegahan Tersier, melalui tindakan penanganan terhadap kasus PAK yang sudah terjadi agar masih dapat dioptimalkan fungsi

Penyakit Akibat Kerja yang selanjutnya disingkat PAK (Occupational Disease) yaitu penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja yang dalam Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2019 disebut Penyakit Yang Timbul Karena Hubungan Kerja.

Sebagai bahan pertimbangan dalam menganalisis dan menetapkan apakah PAK (Occupational Disease) atau penyakit akibat hubungan kerja (Work Related Disease) diperlukan data pendukung antara lain:
1) Data hasil pemeriksaan kesehatan awal (sebelum tenaga kerja di pekerjakan di perusahaan yang bersangkutan);
2) Data hasil pemeriksaan kesehatan berkala (pemeriksaan yang di lakukan secara periodik selama tenaga kerja bekerja di perusahaan yang bersangkutan);
3) Data hasil pemeriksaan khusus (pemeriksaan dokter yang merawat tenaga kerja tentang riwayat penyakit yang di deritanya);
4) Data hasil pengujian lingkungan kerja oleh Pusat Keselamatan dan Kesehatan Kerja beserta balai-balainya, atau lembaga-lembaga lain yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi;
5) Data hasil pemeriksaan kesehatan tenaga kerja secara umum di bagian tersebut;
6) Riwayat pekerjaan tenaga kerja;
7) Riwayat kesehatan tenaga kerja;
8) Data medis/rekam medis tenaga kerja;
9) Analisis hasil pemeriksaan lapangan oleh Pengawas Ketenagakerjaan; dan/atau
10) Pertimbangan medis dokter penasehat.

PAK sering tidak dapat disembuhkan, sehingga upaya pencegahan (preventif dan promotif) harus diutamakan

. SPSI Bekasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *